Powered by Blogger.
Showing posts with label SURGA AKHIRAT. Show all posts
Showing posts with label SURGA AKHIRAT. Show all posts

Kesibukan Malaikat pada Bulan Ramadhan

            Surga selalu dihias dan diberi harum-haruman dari tahun ke tahun karena masuknya bulan Ramadhan. Pada malam pertama Ramadhan itu, muncullah angin dari bawah Arsy yang disebut al Mutsirah. Karena hembusan al Mutsirah ini, daun-daunan dari pepohonan di surga bergoyang dan daun-daun pintunya bergerak, sehingga menimbulkan suatu rangkaian suara yang begitu indahnya. Tidak ada seorang atau mahluk apapun yang pernah mendengar suara seindah suara itu, sehingga hal itu menarik perhatian para bidadari yang bermata jeli. Mereka berdiri di tempat tinggi dan berkata, “Apakah ada orang-orang yang melamar kepada Allah, kemudian Allah akan mengawinkannya dengan kami??”
            Tidak ada jawaban dan penjelasan apapun, maka para bidadari itu bertanya kepada malaikat penjaga surga, “Wahai Malaikat Ridwan, malam apakah ini?”
            Malaikat Ridwan berkata, “Wahai para bidadari yang cantik jelita, malam ini adalah malam pertama Bulan Ramadhan!!”
            Para bidadari itu berdoa, “Ya Allah, berikanlah kepada kami suami-suami dari hamba-Mu pada bulan ini!!”
            Maka tidak ada seorangpun yang berpuasa di Bulan Ramadhan (dan diterima puasanya) kecuali Allah akan mengawinkannya dengan para bidadari itu, kelak di dalam kemah-kemah di surga.
            Kemudian terdengar seruan Firman Allah, “Wahai Ridwan, bukalah pintu-pintu surga untuk umat Muhammad yang berpuasa pada bulan ini. Wahai Malik (Malaikat penjaga neraka), tutuplah pintu-pintu neraka untuk mereka yang berpuasa bulan ini. Wahai Jibril, turunlah ke bumi, kemudian ikatlah setan-setan yang jahat dengan rantai-rantai dan singkirkan mereka ke dasar lautan yang dalam, sehingga mereka tidak bisa merusak (mengganggu) puasa dari umat kekasih-Ku, Muhammad!!”
            Para malaikat itu dengan segera melaksanakan perintah Allah tersebut. Itulah sebabnya di dalam Bulan Ramadhan itu kebanyakan umat Islam sangat mudah untuk berbuat amal kebaikan. Suatu hal yang sangat sulit untuk diamalkan pada bulan-bulan lainnya. Gangguan setan (dari kalangan jin) dan hawa panas neraka untuk sementara ditiadakan, hawa sejuk surga yang penuh rahmat dan kasih sayang Allah melimpah ruah membangkitkan semangat untuk terus beribadah kepada-Nya. Musuh yang harus dihadapi tinggal gangguan setan dalam bentuk manusia dan hawa nafsu, yang mereka itu juga telah dilemahkan dengan adanya kewajiban puasa.
            Pada riwayat lain disebutkan, pada malam pertama Bulan Ramadhan itu Allah berfirman, “Barang siapa yang mencintai-Ku maka Aku akan mencintainya, barang siapa yang mencari-Ku maka Aku akan mencarinya, dan barang siapa yang memohon ampunan kepada-Ku maka Aku akan mengampuninya berkat kehormatan Bulan Ramadhan ini (dan puasa yang dijalankannya) !!”
            Kemudian Allah memerintahkan malaikat Kiramal Katibin (malaikat-malaikat pencatat amalan manusia) untuk mencatat amal kebaikan dari tiga kelompok orang-orang tersebut dan menggandakannya, serta memerintahkan untuk membiarkan (tidak mencatat) amal keburukannya, bahkan Allah juga menghapus dosa-dosa mereka yang terdahulu.
            Pada setiap malam dari Bulan Ramadhan itu, Allah akan berseru tiga kali, “Barang siapa yang memohon, maka Aku akan memenuhi permohonannya. Barang siapa yang kembali kepada-Ku (Taa-ibin, taubat) maka Aku akan menerimanya kembali (menerima taubatnya). Barang siapa yang memohon ampunan (maghfirah) atas dosa-dosanya, maka Aku akan mengampuninya…!!”
            Pada malam yang ditetapkan Allah sebagai Lailatul Qadr, Allah memerintahkan Jibril dan rombongan besar malaikat untuk turun ke bumi. Jibril turun dengan membawa panji hijau yang kemudian diletakkan di punggung Ka’bah. Ia mempunyai 600 sayap, dua di antaranya tidak pernah dipergunakan kecuali pada Lailatul Qadr, yang bentangan dua sayapnya itu meliputi timur dan barat. Kemudian Jibril memerintahkan para malaikat yang mengikutinya untuk mendatangi umat Nabi Muhammad SAW. Mereka mengucapkan salam pada setiap orang yang sedang beribadah dengan duduk, berdiri dan berbaring, yang sedang shalat dan berdzikir, dan berbagai macam ibadah lainnya pada malam itu. Mereka menjabat tangan dan mengaminkan doa umat Nabi Muhammad SAW hingga terbit fajar.
            Ketika fajar telah muncul di ufuk timur, Jibril berkata, “Wahai para malaikat, kembali, kembali!!”
            Para malaikat itu tampaknya enggan untuk beranjak dari kaum muslimin yang sedang beribadah kepada Allah. Ada kekaguman dan keasyikan berada di tengah-tengah umat Nabi Muhammad SAW, yang di antara berbagai kelemahan dan keterbatasannya, berbagai dosa dan kelalaiannya, mereka tetap beribadah mendekatkan diri kepada Allah, tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Mendengar seruan Jibril untuk kembali, mereka berkata, “Wahai Jibril, apa yang diperbuat Allah untuk memenuhi permintaan (kebutuhan) orang-orang yang mukmin dari umat Nabi Muhammad ini?’
            Jibril berkata, “Sesungguhnya Allah melihat kepada mereka dengan pandangan penuh kasih sayang, memaafkan dan mengampuni mereka, kecuali empat macam manusia…!”
            Mereka berkata, “Siapakah empat macam orang itu?”
            Jibril berkata, “Orang-orang yang suka minum minuman keras (khamr, alkohol, narkoba dan sejenisnya), orang-orang yang durhaka kepada orang tuanya, orang-orang yang suka memutuskan hubungan silaturahmi, dan kaum musyahin!!”
            Para malaikat itu cukup puas dengan penjelasan Jibril dan mereka kembali naik ke langit, ke tempat dan cara ibadahnya masing-masing seperti semula.
            Ketika Nabi SAW menceritakan hal ini kepada para sahabat, salah seorang dari mereka berkata, “Wahai Rasulullah, siapakah kaum musyahin itu?”
            Nabi SAW bersabda, “Orang yang suka memutuskan persaudaraan, yaitu orang yang tidak mau berbicara (karena perasaan marah, dendam dan sejenisnya) kepada saudaranya lebih dari tiga hari!!”
            Malam berakhirnya bulan Ramadhan, yakni saat buka puasa terakhir dan memasuki malam Idul Fitri, Allah menamakannya dengan Malam Hadiah (Lailatul Jaa-izah). Ketika fajar menyingsing, Allah memerintahkan para malaikat untuk turun dan menyebar ke seluruh penjuru negeri-negeri yang di dalamnya ada orang-orang yang berpuasa. Mereka berdiri di jalan-jalan dan berseru, dengan seruan yang didengar oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia, “Wahai umat Muhammad, keluarlah kamu kepada Tuhan Yang Maha Pemurah, yang memberikan rahmat begitu banyak dan mengampuni dosa yang besar!!”
            Ketika kaum muslimin keluar menuju tempat-tempat shalat Idul Fitri dilaksanakan, Allah berfirman kepada para malaikat, “Wahai para malaikat-Ku, apakah balasan bagi pekerja jika ia telah menyelesaikan pekerjaannya??”
            Mereka berkata, “Ya Allah, balasannya adalah dibayarkan upah-upahnya!!”
            Allah berfirman, Wahai para malaikat, Aku persaksikan kepada kalian semua, bahwa balasan bagi mereka yang berpuasa di Bulan Ramadhan, dan shalat-shalat malam mereka adalah keridhaan dan ampunan-Ku!!”

Masih Ada Syetan Berkeliaran di Bulan Ramadhan (Kisah Nyata)



Sebuah rumah besar yang terbuat dari kayu tampak berdiri kokoh di tengah desa Semuntul. Rumah itu tidak beda jauh dengan rumah-rumah lainnya di kampung yang terletak persis di tepi Sungai Musi tersebut. Masyarakatnya yang sebagian besar mengandalkan hidup dari bertani dan nelayan hanya mampu menyediakan kayu dan papan sebagai bahan untuk membangun rumah. Maklumlah, di sana hutan dan kayu-kayu liar masih teramat luas bahkan sebagian tidak terjamah oleh manusia, sehingga mereka selalu bergotong royong membangun rumah-rumah penduduk dari hasil pengolahan kayu yang liar.
Malam itu suasana rumah kami tampak senyap dan sepi. Padahal waktu telah menunjukkan pukul dua malam. Biasanya ibuku sudah sibuk di dapur memasak untuk keperluan sahur. Ah, ibuku pasti senang berada di kota saat ini, karena ia sedang berkumpul dengan saudara-saudaraku yang bersekolah di sana. Ibu memang rutin mengunjungi mereka setiap bulan. Sekalian memberi uang belanja bulanan buat mereka. Sedangkan aku masih sekolah di kampung, karena usiaku sendiri pada saat itu baru tujuh tahun, tapi aku sudah duduk di bangku SD kelas tiga. Dan malam itu hanya aku dan ayahku yang menghuni rumah tua tersebut, dinginya malam yang diterangi oleh sinar temaram rumah penduduk dan kelap kelip lampu nelayan di Sungai Musi telah melukiskan kelengangan yang mencekam. Aku hampir tak bisa memejamkan mata, karena memikirkan sesuatu yang sebetulnya aku sendiri tidak tahu apa itu sesuatu yang sedang difikirkan.
Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang masuk ke dalam lubang telingaku. Aku terkejut dan meronta. Tapi ia terus menusuk hingga aku berlari ke rumah bagian depan menuju kamar ayah yang berada di sana. Sambil mengorek-ngorek telingaku tak henti-hentinya aku memanggil ayah hingga ayah keluar dan dengan heran melihat aku seperti orang kesakitan dan ketakutan. Setelah aku jelaskan apa yang sedang aku rasakan ayah segera keluar rumah mengambil tangkai daun pepaya yang tumbuh di sana, lalu ia membakar tangkai daun tersebut dan meniupkan ke telingaku. Sesuatu yang berada di situ perlahan menghilang dan akhirnya aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi. Setelah mengucapkan kata terima kasih, aku bersiap mau kembali ke kamarku yang berada jauh di bagian belakang. Dan sekali lagi ada sesuatu yang mengejutkanku lagi. Sekelebatan bayangan beberapa orang berpakaian putih berjalan di koridor ruang tengah. Tak kurang dari sembilan sosok berbaris dihadapanku sambil membelakangi. Lalu menghilang ke balik tabir jendela. Aku tersentak dan menjadi kaku. Mau membalik ke kamar ayah tapi kakiku tak bisa melangkah. Mau menjerit kerongkonganku terasa tercekat. Akhirnya kubiarkan jiwa dengan perasaan menerima dan menghilangkan bayangan tersebut dari ingatanku, barulah kaki bisa melangkah kembali ke arah kamar ayah.
“Ada apa Du?” tanya ayah, ternyata beliau sudah berdiri di depan kamarnya
“Beberapa bayangan putih berjalan di ruang tengah dan menghilang di balik tabir jendela Yah” jelasku.
Ayah segera menuju ke tempat yang kumaksud. Namun ternyata tidak ada apa-apa. Aku kembali ke kamar tidurku. Kuarahkan mataku pada jam yang menempel di dinding, waktu menunjukkan pukul dua lewat tiga puluh malam. Tidak berapa lama lagi sahur, fikirku. Jangan sampai tertidur, aku membisikki hatiku sendiri. Setelah beberapa jenak aku membaringkan tubuhku, sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang bercakap. Sepertinya dari ruang depan. Dan obrolan tersebut semakin lantang. Aku bangun dari pembaringan dan membuka pintu kamarku.
“Silahkan ganggu jika bisa kau ganggu” itu jelas-jelas suara ayahku yang ditujukannya pada seseorang. Lalu aku melangkah ke depan dengan mengendap-endap untuk mengetahui dengan siapa ayah berbicara. Ternyata tidak ada orang lain sama sekali, ayah ngomong sendirian. Dan aku mendekat ke ayah.
“Ngomong sama siapa yah?” tanyaku
“Oh, nggak” jawab ayah. “Tidurlah lagi” lanjutnya. Tapi aku tak mau tidur di kamarku. Aku pindah ke kamar ayah. Karena aku merasakan udara yang tidak bersahabat. Bulu kuduk yang merinding berdiri tegak dengan tajamnya. Sekujur tubuh yang mulai dingin. Aura menakutkan seolah sedang mengitariku. Akhirnya ayah membiarkan aku tidur di kamarnya malam itu. Setelah makan sahur sekitar jam empat pagi, dari makanan yang diantar Bik Mina tetangga kami, aku tak mau tidur lagi. Kuikuti ayah yang langsung pergi ke mesjid dan tadarusan menjelang Subuh tiba. Karena tak kuat menahaan kantuk aku tertidur di mesjid tanpa sadar apakah aku sudah shalat subuh atau belum.
Ketika terbangun matahari sudah membakar sebagian tubuhku akibat cahayanya tembus lewat jendela mesjid yang ditutup kaca tipis. Aku bergegas pulang. Rumah tampak kosong, ayah sudah tidak ada. Tapi orang-orang ramai berlarian menuju satu arah, yaitu daerah persawahan. Aku yang penasaranpun jadi tertarik untuk ikut melangkah ke arah yang didatangi orang-orang kampung. Tidak begitu lama akupun tiba di kerumunan orang-orang. Dengan tubuh yang kecil dan pendek aku berhasil menyeruak hingga berada di tengah-tengah. Kulihat ayahku sedang berada di situ sambil memegang seseorang yang kesurupan. Orang tersebut tak lain adalah Mang Pardiman. Beliau sedang berada di sawahnya sendirian ketika tiba-tiba kesurupan sambil menjerit-jerit dengan mengeluarkan omongan yang tidak karuan.
“Ambil bawang merah” kata ayahku kepada Pak Ugeng yang berada didekatnya.
“Ah, bawang merah. Nggak takutlah. Itukan mainanku sehari-hari” jawab Mang Pardiman dengan suara yang agak aneh dan tertawa yang seram.
“Kamu nantang saya?” Ayahku membentak sambil mengeratkan pegangannya ke tangan Mang Pardiman
“Aku tahu Bapak keturunan orang hebat, tapi aku tidak takut” tantang Mang Pardiman
“Oh, begitu. Tolong Geng, jangan pakai bawang, ambil air putih seember, biar kita mandikan” ancam ayah.
“Takuuuuuut, jangan mandikan aku.....” pekik Mang Pardiman ketika ayah sudah mulai menyiram tubuhya dengan air yang diberikan oleh Pak Ugeng. Tapi ayah tak peduli, dia terus menyiramkan air secara bergantian di setiap bagian tubuh Mang Pardiman. Pekikan Mang Pardiman tidak dihiraukan sama sekali. Dan lama-lama Mang Pardiman menjadi lemas dan terkulai. Terdengar suara tawa yang menakutkan mulai menjauh dari kerumunan orang-orang dan Mang Pardiman kedapatan dalam kondisi pingsan.
“Bawa ke rumah” kata ayah. Entah ditujukan kepada siapa permintaan tersebut, tapi yang jelas orang-orang di sekitar situ langsung menggotong tubuh Mang Pardiman ke rumahnya.
“Rombongan syetan itu semalam datang bersembilan” kata ayah memulai ceritanya kepada penduduk kampung. “Mereka sudah membentuk kelompok, dan akan terus mencari anggota-anggota baru untuk bergabung bersama mereka. Ketuanya si Haji Mamat yang meninggal sekitar setahun yang lalu ketika kedapatan menyelingkuhi isteri orang, lalu mati dikeroyok massa. Lantas ada perempuan yang bernama Moya, meninggal kena santet akibat terlalu sering menyakiti hati orang lain. Dan yang lain-lainnya adalah orang-orang yang meninggal dalam kondisi tidak baik, sehingga bergabung dengan kelompok Haji Mamat tersebut, sekarang mereka mencari mangsa terus untuk bergabung dengan kelompok mereka, untung Mang Pardiman cepat diketahui, kalau tidak mungkin sudah meregang nyawa” jelas ayah lagi.
“Lalu kenapa Mang Pardiman yang diganggu” tanya salah seorang penduduk kampung yang bernama Supra.
“Karena Mang Pardimanlah yang paling memungkinkan untuk bisa diganggu” kata ayah.
“Kenapa?” Tanya Supra lagi
“Lihat saja ibadahnya Mang Pardiman. Apa pernah dia ke Mesjid? Apa pernah melihat dia membasuhi tubuhnya dengan wudhu? Maghribpun dia masih di sawah, apalagi ibadah yang lain, tadipun dia tidak berpuasa” ayah menerangkan sebab mudahnya Mang Pardiman dirasuki roh halus tersebut. Mendengar penjelasan tersebut kami semua tertegun dan berfikir untuk tidak meninggalkan ibadah yang diperintahkan Allah apalagi Shalat lima waktu yang sangat sakral sebagai tiang agama dan juga merupakan mini atur atau kumpulan dari ibadah-ibadah lainnya. Hidup memang tidak boleh lepas dari amal ibadah. Karena tanpa itu apapun yang kita lakukan tak pernah mendatangkan kebahagiaan yang hakiki. Hidup seperti itu semakin lama akan semakin gelap dan pekat. Kita tak lagi mempunyai teman, selain amal baik. Harta, pangkat, jabatan, yang mati-matian kita cari semuanya tidak ada yang mampu menolong kita. Bahkan mungkin tumpukan harta yang kita tinggalkan malah memperberat kita karena dipakai maksiat oleh anak dan keturunan kita. Sedangkan kematian tidak bisa ditangguhkan. Mungkin saat itulah kita melolong-lolong menjerit penuh penyesalan. Ketika itulah akan kita rasakan gemeretaknya tulang-belulang di sekujur tubuh hancur luluh dihimpit oleh kubur yang teramat benci kepada jasad yang sarat bergelimang dosa. Ketahuilah bahwa kematian itu pasti, dan siksa kubur pun pasti bagi orang yang tidak mempersiapkan diri. Lalu apakah yang akan kita alami sesudah kematian nanti? Adalah hari pembalasan, adakah pernah terfikirkan bahwa kita nanti di akhirat akan dibalas sesuai dengan amal perbuatan kita di dunia? Pandanglah dunia ini, begitu banyaknya ketidakadilan menyelimuti kehidupan manusia di bumi ini. Mudahnya nyawa manusia tak berdosa hilang tanpa alasan yang jelas, banyak kaum yang tertindas oleh penguasa, banyak orang yang dibakar karena disangka pencopet atau pencuri padahal mereka tidak pernah mencopet maupun mencuri. Na'udzubillah, dan banyak pula yang mati tanpa pernah diterima bumi dan langit hingga rohnya bergentayangan menunggu kiamat tiba. Hari Pembalasan, masa dimana tidak ada lagi kesempatan beramal baik yang menyelamatkan kita. Semoga kita semua dijauhkan dari hal-hal yang demikian.

KEISTIMEWAAN shalat tarawih

Kalo Anda baca, akan bersemangat tarawih///
Dari Ali bin Abi Thalib berkata: “Aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang keutamaan (shalat) Tarawih di bulan Ramadhan lalu beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berkata:
Di malam ke-1: Dosa-dosa orang yang beriman keluar darinya pada malam pertama seperti hari dilahirkan ibunya.
Di malam ke-2: Dirinya diampuni juga (dosa) kedua orang tuannya jika keduanya beriman.
Di malam ke-3: Malaikat memanggil dari bawah ‘Arsy: ‘Mulailah beramal, semoga Allah mengampuni dosamu yang lalu!’
Di malam ke-4: Baginya pahala seperti pahala membaca Taurat, Injil, Zabur dan Al Furqan (Al Qur’an).
Di malam ke-5: Allah memberinya pahala seperti orang yang shalat di Masjidil Haram, Masjid Madinah, dan Masjid Aqsha.
Di malam ke-6: Allah memberinya pahala seperti orang yang melakukan thawaf mengelilingi Baitul Makmur dan bebatuan pun memohonkan ampunan baginya.
Di malam ke-7: Seakan-akan dia bertemu Musa as dan kemenangannya atas firaun dan Haman.
Di malam ke-8: Allah memberikan kepadanya seperti apa yang telah diberikan-Nya kepada Ibrahim ‘Alaihis Salam.
Di malam ke-9: Seakan-akan dia beribadah kepada Allah seperti ibadahnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Di malam ke-10: Allah memberikan rezeki kepadanya kebaikan dunia dan akhirat.
Di malam ke-11: Dirinya keluar dari dunia seperti hari kelahirannya dari rahim ibunya.
Di malam ke-12: Pada hari kiamat dirinya akan datang seperti bulan di malam purnama.
Di malam ke-13: Pada hari kiamat dia akan datang dengan keamanan dari segala keburukan.
Di malam ke-14: Malaikat datang untuk menyaksikannya shalat taraweh dan kelak Allah tidak akan menghisabnya pada hari kiamat.
Di malam ke-15: Para malaikat dan para malaikat pembawa Arsy dan kursi bershalawat kepadanya.
Di malam ke-16: Allah Subhanahu wa Ta’ala menetapkan baginya kebebasan dari api neraka dan dimasukan ke surga.
Di malam ke-17: Diberikan pahala seperti pahala para Nabi.
Di malam ke-18: Para malaikat memanggil, ‘Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah telah meridhaimu dan meridhai kedua orang tuamu.’
Di malam ke-19: Allah mengangkat derajatnya di surga Firdaus.
Di malam ke-20: Dia diberikan pahala para syuhada dan orang-orang shaleh.
Di malam ke-21: Allah membangunkan baginya sebuah rumah dari cahaya di surga.
Di malam ke-22: Pada hari kiamat ia akan datang dengan rasa aman dari semua kesulitan dan kecemasan.
Di malam ke-23: Allah membangun baginya sebuah kota di surga.
Di malam ke-24: Dikatakan kepadanya, ‘Ada 24 doa yang dikabulkan.’
Di malam ke-25: Allah mengangkat siksa kubur darinya.
Di malam ke-26: Allah mengangkatnya seperti pahala 40 ulama.
Di malam ke-27: Pada hari kiamat ia akan melintasi Shirathul Mustaqim bagai kilat yang menyambar.
Di malam ke-28: Allah mengangkatnya 1000 derajat di surga.
Di malam ke-29: Allah memberikan ganjaran baginya 1000 hujjah (argumentasi) yang dapat diterima.
Di malam ke-30: Allah berfirman: Wahai hamba-Ku makanlah dari buah-buahan surga dan mandilah dari air Salsabila.”
Status Hadits
  1. Al Lajnah Ad Daimah Li al Buhuts Al Ilmiyah wa Al Ifta dalam fatwanya nomor 8050 menyebutkan bahwa hadits tersebut tidak memiliki landasan dan termasuk dalam hadits-hadits dusta terhadap Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam.
  2. DR. Lutfi Fathullah, penulis disertasi tahqiq kitab Durratun Nashihin mengatakan: “Ada sekitar 30 persen hadits palsu dalam kitab Durratun Nashihin. Di antaranya adalah hadits tentang fadhilah atau keutaman shalat tarawih, (yaitu) dari Ali Radhiallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaih wa sallam ditanya tentang keutamaan shalat tarawih, (lalu beliau bersabda) malam pertama pahalanya sekian, malam kedua sekian, dan sampai malam ketiga puluh.Hadits tersebut tidak masuk akal. Selain itu, jika seseorang mencari hadits tersebut di kitab-kitab referensi hadits, niscaya tidak akan menemukannya.”

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN

KEISTIMEWAAN BULAN RAMADHAN
  1. Puasa bulan Ramadhan adalah rukun keempat dalam Islam. Firman Allah ta’ala:
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Al Baqarah: 183).
Sabda Nabi r:
(( بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ: شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيْتَاءِ الزَّكاَةِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ وَحَجِّ البَيْتِ الحَرَامِ )) متفق عليه.
“Islam didirikan di atas lima sendi, yaitu: syahadat tiada sembahan yang haq selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji ke Baitul haram.” (Hadits Muttafaq alaih).



7 kebesaran allah yang ada pada manusia - SURGA AKHIRAT

kita sebagai manusia makluk yang paling mulia di alam semesta kita diciptakan oleh allah dengan sangat sempurna dan teryata di tubuh kita terdapat banyak sekali tanda tanda kebesarannya dan berikut ini adalah 7 tanda kebesaran allah di tubuh manusia  :

 1). Asmaul husna pada telapak tangan manusia:




Jika kita balikkan pula tangan, dan melihat ke telapaknya, maka di situ kita akan lihat urat-urat yang akan membentuk tulisan nomor dalam bahasa Arab. Nomornya adalah 81 di telapak tangan kiri dan 18
di telapak tangan kanan. Jika dicampur kedua nomor tersebut, jumlahnya ialah 99.   Dan nomor 99 itu adalah simbolik kepada 99 nama Allah, yang dipanggil sebagai Asma-ul Husna (nama-nama yang baik). 

 2). Tulang ekor manusia:



Ketika kita wafat, maka kita akan dikebumikan dan setelah beberapa tahun tubuh kita akan menjadi tulang-belulang. Beberapa tahun kemudian tulang-belulang itupun akan hancur dan berubah menjadi semacam biji, dan di dalam biji tersebut, kita akan menemukan satu tulang yang sangat kecil disebut ‘ajbudz dzanab (tulang ekor). 
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh bagian tubuh anak Adam akan (hancur) dimakan tanah kecuali tulang ekor (‘ajbudz dzanab), darinya tubuh diciptakan dan dengannya dirakit kembali.” (Imam Muslim, Nomor 2955).

Bila link rusak atau error segera laporkan pada kolom komentar